Kamis, 11 September 2014

TAMAN NASIONAL INDONESIA

INDONESIA BAGIAN BARAT :

1. Taman Nasional Gunung Leuser.
Terletak di 2 propinsi yaitu Sumatra Utara dan D.I. Aceh dan 3 kabupaten ( Langkat, Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ) dengan ketinggian 0-3.381 m dpl.

Kekhasan / spesifik.
Terdapat Pusat Rehabilitasi Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ) di Bohorok dan merupakan salah satu tempat rehabilitasi yang masih memiliki hutan tropika basah paling luas di Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi. Selain itu, Taman Nasional ini juga dapat dikunjungi sebagai obyek pariwisata alam. Di Sekundur kita dapat menyaksikan satwa gajah dan habitatnya, sungai Alas untuk rafting, pendakian gunung Leuser dan gunung-gunung lainnya.

Di Taman Nasional ini terdapat kurang lebih 95 Dipterocarpaceae, Raflesia Atjehensis yang merupakan flora langka. Diperkirakan pula terdapat 89 jenis satwa yang tergolong langka, diantaranya Serundung ( Hylobates Lar ), Rungka ( Presbytis Thomasi ), Macan Akar ( Felis Termmincki ), Enggang ( Rhyteceros Spp ), Badak Sumatra ( Dicerorhinus Sumatrensis ), Harimau Sumatra ( Phantera Tigris Sumatrensis ), Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ).

Prasarana dan sarana :
Kantor pengelola, pusat informasi, shelter, jalan setapak, laboratorium, dan ruang pertemuan.
Alamat kantor :
Tanah Merah, Kutacane Aceh Tenggara
Telp (0551) 108, P.O. BOX 16


2. Taman Nasional Kerinci Seblat.
Terletak di 4 propinsi ( Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Selatan dan Bengkulu ). Dengan ketinggian antara 0-3.800 m dpl

Kekhasan / spesifik.
Hutan pinus, kambing hutan, bunga bangkai raksasa ( Amorphopalus Titanum ). Di kawasan taman nasional ini diperkirakan terdapat 36 jenis mamalia ( 24 jenis diantaranya dilindungi dan termasuk langka ), 140 jenis burung ( 26 jenis diantaranya dilindungi dan 26 jenis lainnya termasuk langka).

Ada 5 jenis tipe vegetasi : vegetasi dataran rendah, vegetasi hutan pegunungan/bukit, vegetasi montana, vegetasi belukar gleichenia / paku-pakuan dan vegetasi sub alpine.

Obyek wisata.
Obyek-obyek wisata yang dapat dikunjungi untuk pariwisata alam diantaranya danau Gunung Tujuh dengan pemandangan alamnya yang sangat indah, pendakian ke puncak gunung Kerinci, danau Ladeh Panjang, Padang Satwa Inum Raya Gunung Sumbing.

Prasarana dan sarana :
Terdapat kantor pengelola pusat, pusat informasi, stasiun penelitian, wisma tamu, pondok wisata, MCK, shelter, jalan setapak, pos jaga, pos SAR, rumah dinas.
Alamat kantor :
Jl. Martadinata No.100 Sungai Penuh, Kerinci, Jambi.


3. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Terletak di kab. Lampung Selatan dan Lampung Barat ( Propinsi Lampung ) dan Bengkulu Selatan ( Propinsi Bengkulu ) dengan ketinggian 0-1.964 m dpl.

Potensi flora dan fauna :
Tipe vegetasi utama di daerah ini adalah hutan hujan tropis dengan jenis-jenis yang ada diantaranya Meranti ( Shorea sp ), Keruing ( Dipterocarpus sp ), Merawan ( Hopea sp ), Rotan ( Calamus sp ). Tipe vegetasi hutan payau dengan jenis Sonneratia sp, Nypa Fraxticans.
Jenis-jenis fauna yang ada diantaranya adalah Siamang ( Hylobates Sundactylus ), Badak Sumatra ( Dicerorhinus Sumatrensis ),dan berbagai jenis burung.

Obyek wisata.
1. Belimbing : menyaksikan panorama laut dari menara suar buatan Belanda tahun 1885.
2. Danau Menjukut : merupakan habitat beberapa burung air dan tempat minum satwa
juga merupakan atraksi wisata yang sangat menarik.
3. Camping ground di Suraja dan Kubu Perahu.
4. Suka Raja : terdapat beberapa air terjun, dan dapat dinikmati pemandangan alam
ke arah teluk Semangka yang terletak dibawahnya.
5. Danau Ranau : terletak di tepi barat laut dengan airnya yang jernih. di danau ini
pengunjung dapat bersampan sambil menikmati pemandangan pegunungan
Bukit Barisan.


4. Taman Nasional Way Kambas.
Terletak di kabupaten Lampung Tengah propinsi Lampung Tengah dengan ketinggian antara 0-225 m dpl.

Prasarana dan sarana yang sudah tersedia diantaranya : kantor pengelola, pondok kerja, pondok jaga, pondok wisata, stasiun peneliti flora dan fauna, visitor center, menara pengamat, dermaga, laboratorium gajah, klinik satwa, jalan aspal dan jalan tanah. Sampai sekarang pengelolaan taman nasional ini dilakukan oleh Sub Balai KSDA Way Kambas.


5. Taman Nasional Ujung Kulon.
Terletak di kabupaten Pandeglang propinsi Jawa Barat dan kabupaten Lampung Selatan propinsi Lampung dengan ketinggian 0-480 m dpl.

Khas / endemik / langka :
Badak Cula Satu ( Rhinoceros Sondairus ), Banteng ( Bos Javanicus ), Rusa ( Cervus Timorensis ), Anjing Hutan ( Cuon Alpinus Javanicus ), Owa ( Hylobates Moloch ), Surili ( Presbytis Aygula ), Penyu Hijau ( Chelonia Mydas ).
Tipe-tipe ekosistem yang ada diantaranya ekosistem hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa dan hutan hujan dataran rendah dengan jenis-jenis tumbuhan yang ada diantaranya Api-api ( Avicenia Marina ), Nibung ( Oncosperma Tigilaria ), Gelam ( Melaleuka Leucadendron ), Meranti ( Shorea sp ), Kruing ( Dipterocarpus sp ), Merbau ( Instia Palembanica ). Jenis-jenis fauna yang ada diantaranya Gajah Sumatra ( Elephas Maximum Sumatranus ), Harimau Loreng ( Phantera Tigris Sumatrea ), Tapir ( Tapirus Indicus ), Anjing Hutan ( Cuon Alpinus ), Beruang Madu ( Helarctos Malayanus ), Kijang ( Muntiacus Muntjak ).

Kekhasan / spesifik.
Pusat latihan gajah di Karang Sari hanya ada di Taman Nasional ini. Di tempat ini gajah-gajah liar dilatih dan dijinakkan untuk kemudian diperbantukkan bagi kepentingan manusia.
Obyek wisata lainnya terdapat di Way Kanan, alur sungai Way Kanan - Way Kambas, Pantai Kuala Kambas, daerah Plang Hijau.
Di pusat latihan gajah dapat disaksikan atraksi satwa gajah yang sangat menarik, sedangkan di lokasi lainnya kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah dan menyaksikan satwa di habitat aslinya.

Obyek Wisata.
Di pulau Panaitan terdapat kegiatan untuk berenang. snorkel, scuba diving, berselancar, rekreasi pantai, wisata budaya dan penelitian. Sedangkan pulau Peucang dapat dilakukan kegiatan rekreasi pantai, mengintai banteng dan menyusuri gua. Taman Jaya untuk rekreasi pantai. Kawasan Gunung Honje untuk kegiatan mendaki gunung dan Pulau Rakata untuk kegiatan penelitian.
Alamat kantor :
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 43 Labuan, Pandeglang, Jawa Barat.


6. Taman Nasional Kepulauan Seribu.
Terletak di kecamatan Kepulauan Seribu kotamadya Jakarta Utara dengan ketinggian antara 0-7 m dpl.
Ekosistem perairannya : Su tipe ekosistem daratan pantai, Sub tipe ekosistem pantai hutan bakau, Sub tipe ekosistem terumbu karang.

Khas / endemik / langka.
Coral Reef dan Reef Flot, Kima Raksasa ( Tridacna Gigas ), Penyu Sisik ( Eretmochelys Imbricata ), Penyu Hijau ( Chelonia Mydas ).

Obyek Wisata.
Terdapat obyek wisata bahari yaitu snokel, scuba diving, mandi sinar matahari, berenang, berlayar, memancing dan lain-lain. Dengan pemandangan lautnya yang sangat indah. Taman Nasional ini juga tempat kegiatan penelitian / pendidikan biota laut.
Alamat kantor :
Jl. Salemba Raya No.16, Jakarta Pusat.
Tel (021) 884776 ( no tsb, mungkin sudah berubah ).


7. Taman Nasional Gede Pangrango
Terletak di kabupaten Bogor, Cianjur, Sukabumi, Jawa Barat, dengan ketinggian antara 700-3.000 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Macan Tutul ( Panthera Pardus ), Gibon Jawa / Owa ( Hylobates Moloch ),
Edelweis ( Anaphalis Javanica ), jenis rumput Carex Graeffeana, terdapat beberapa spesies anggrek.

Obyek Wisata.
Telaga alam seperti Telaga Biru dan Rawa Gayonggong. Hikking, climbing, camping dan photo hunting. Air terjun Cibeureum, Salabintana dan Curuk Sewer serta air panas. Dan gunung Gede ini masih aktif.

Alamat kantor :
Jl. Raya Cibodas P.O.Box 3
Cipanas, Jawa Barat
Tel (0255) 2775 ( no tsb, mungkin sudah berubah ).

8. Taman Nasional Laut Karimun Jawa
Terletak di daerah tingkat II Jepara propinsi Jawa Tengah, denga ketinggian antara 1-7 m dpl. Ekosistem : hutan dataran rendah tropis, hutan mangrove, terumbu karang ( Fringing Reefs dan Barrier Reefs ).

Khas / endemik / langka.
Rusa ( Cervus sp ), Trenggiling ( Manis Javanica ), Landak ( Hystrix Breachyra ), Burung Dara Laut ( Sterna Hirunda ), Burung Garuda ( Falconidae ), Burung Bangau Hitam
( Ciconia Episcopus ), Hewan Bentos, Penyu Sisik dan Penyu Hijau, Dewodaru, Karang Merah ( Tubifora Musica ).

Obyek Wisata.
Wisata bahari, hiking, camping, panorama alam yang indah di pantai, tempat penelitian, bangkai sisa-sisa perang dunia II di perairan Katang / Besi, peninggalan sejarah : makam Sunan Nyamplung, benteng, tempat berlabuhnya kapal Belanda di Karimun Jawa, Greensand.

Alamat kantor :
Jl. Mpu Tantular No 31, Semarang
Tel. 26480 ( no tsb, mungkin sudah berubah ).

9. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Terletak di 4 kabupaten yaitu Malang, Probolinggo, Lumajang propinsi Jawa Timur denga ketinggian antara 1.200-3.676 m dpl. Ekosistem dab formasi hutan terdiri dari hutan hujan tropika, hutam klimaks kebakaran, hutan cemara, danau.

Khas / endemik.
Cemara ( Casuarina Junghuniana ), Melastoma Zollingeri dan rumput Styphelia Punguens, Macan Tutul ( Panthera Pardus ), Babi Hutan ( Sus Scrofa ), Kijang
( Muntiacus Muntjak ), Anjing Hutan ( Cuon Alpinus ), Ayam Hutan ( Callus spp ), Kera ( Macaca sp ).

Obyek Wisata.
Upacara Kasodo, diadakan setiap tahun sekali sekitar bulan Desember / Januari. Terdapat Taman wisata Ranu pane / Ranu kumbolo dan cagar alam laut pasir Tengger, mendaki gunung Bromo melalui anak tangga sebanyak 250 buah dan melihat kawah yang merupakan kawah di tengah kawah. Mendaki gunung Semeru. Gua di gunung Widodaren.

Alamat kantor :
Jl. A. Yani ( belakang pengadilan negeri ), Malang.
Tel . 41828. ( no tsb, mungkin sudah berubah ).

10. Taman Nasional Meru Betiri.
Terletak di kabupaten Banyuwangi dan kabupaten propinsi Jawa Timur, dengan ketinggian antara 0-1.200 m dpl. Ekosistem dan formasi hutan yaitu : hutan jambu,
hutan huja tropik daerah sedang, hutan rawa, hutan payau, hutan pantai.

Khas / endemik / langka.
Rafflesia Zallingeriana dan Bischafia Javanica, Macan Loreng ( Panthera Tigris Sundaicus ), Macan Kumbang ( Felis Pardus Melas ), Kucing Hutan ( Felis Bengalensis ), Bajing Terbang ( Ptanrista Legang), Kijang ( Muntiacus Muntjak ), Kancil ( Tragulus sp), Merak ( Payo Muticus ), Rangkong ( Rhinoceros sp ), Banteng ( Bos Javanicus ).

Obyek Wisata.
1. Wisata perkebunan di Bandealit dan Sukamade dengan tanaman kopi, karet, coklat
dan cara pengolahannya.
2. Wisata bahari di daerah pantai Rajegwesi, pantai Eneg, pantai Rejegwesi, teluk hijau
dan pulau merah, dimana dapat dilakukan berenang.
3. Terdapat tempat bertelurnya penyu hijau di bagian selatan Sukamade.
4. Terdapat padang penggembalaan banteng di Nanggelan.

Alamat kantor :
Jl. Jawa, Kotak Pos 82, Jember, Jawa Timur.

11. Taman Nasional Baluran.
Terletak di kabupaten Situbondo propinsi Jawa Timur, dengan ketinggian antara
0-1.2247 m dpl. Ekosistem dan formasi hutan yaitu : pantai, hutan ( kurang lebih 40% dari luas kawasan ), hutan pegunungan yang kering dan selalu hijau ( Unland Dry Evergreen Forest ), Stoney Streambed ( terbentuk di sepanjang alirang sungai kering dan berbatu-batuan ) dan kawah.

Khas / endemik / langka.
Banteng ( Bos Javanicus ), Rusa ( Cervus Timorensis ), Kijang ( Muntiacus Muntjak ),
Merak ( Pavo Muticus ), Ayam Hutan ( Gallus sp ), Lutung Berbulu Merah ( Presbytis Cristata ), Biawak ( Varanus Bengalensis ), Macan Tutul / Kumbang ( Panthera Pardus ), Kucing Hutan ( Felis Bengalensis ), Dadap Biru ( erythrina Eudophyla ).

Obyek Wisata.
1. Atraksi satwa yang dapat disaksikan di daerah Talpat, Bekol dan Semiang.
2. Hiking menyusuri jalan setapak dalam hutan.
3. Mendaki gunung ke puncak Gunung Baluran.
4. Wisata bahari dengan pantai putih kekuningan, berenang, scuba diving yang terdapat
di pantai Bama, Gatal dan Masigit.
5. Melihat panorama keindahan alam, batu karang, bukit dan pantai.
6. Rekreasi menunggang kuda dari Pandean-Bekol atau Bekol-Baluran labuhan Merak-Bilik-Karang-Tekok.

Alamat kantor :
Jl. Jend. A. Yani No.108, Banyuwangi, Jawa Timur.

12. Taman Nasional Bali Barat.
Terletak di kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana dan kecamatan Gerokgak, kabupaten Buleleng propinsi Bali, denga ketinggian antara 201-1.346 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Jalak Putih ( Leucopsar Rothchildi ), Banteng ( Bos Javanicus ), Menjangan ( Cervus Timorensis ), Kijang ( Muntiacus Muntjak ), Ikan Duyung ( Dugong Dugong ), Ayam Hutan ( Gallus sp ), Sawo Kecik ( Manilkara Kauki ), Lontar ( Borassus Flobelifer ).

Obyek Wisata.
1. Wisata bahari yang terdapat di daerah perairan teluk Terima dan P. Menjangan berupa
norkeling, scuba diving, fishing, berenang juga terdapat beraneka ragam jenis fauna
dan flora laut serta terumbu karang.
2. Wisata budaya dengan adanya makam atau tempat keramat Jaya Prana dan Pura bagi
penduduk yang beragama Hindu
3. Pada bagian timur kawasan terdapat pura yang cukup besar yaitu Pura Pulaki yang
di bangun pada abad 16, terletak di pinggir tebing bukit-bukit batu karang dan
menghadap laut.
4. Hutan mangrove daerah Banyuwedang terdapat sumber air panas yang banyak
di kunjungi penduduk untuk menyembuhkan kulit.
5. Di daerah Klatakan pada ketinggian 400 m dpl telah dibuat jalan aspal menuju Stasiun
Reley Micro Wave, dimana di sepanjang jalan tersebut dapat menikmati pemandangan
alam yang indah, menghirup udara yang sejuk dan melihat satwa rusa dan burung
rangkong.

Alamat kantor :
Jl. Cekik Kantor Pos Gilimanuk, Bali.

13. Taman Nasional Gunung Halimun.
Terletak di kabupaten Bogor dan kabupaten Sukabumi propinsi Jawa Barat dengan ketinggian antara 500-2.000 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Hylobates Moloch, Nycticebus coucang, Panthera Pardus, Bungan Bangkai Raksasa ( Amorphopalus sp).

Obyek Wisata.
Belum ada pengkajian / penelitian khusus untuk mengembangkan pariwisata alam di taman nasional ini, namun ada beberapa lokasi yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata karena udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya yang masih asli.
Fasilitas : Pondok kerja, pos jaga, jalan patroli, pal batas.


14. Taman Nasional Berbak.
Terletak di propinsi Jambi, wilayah kabupaten Tanjung Jabus, denga ketinggian mencapai 0-16 m dpl.

Khas / spesifik.
Merupakan perwakilan tipe ekosistem lahan basah yang cukup luas, Fauna : Tapir ( Tapirus Indicus ), merupakan perwakilan tipe ekosistem lahan basah.
Potensi wisata yang dapat dilihat di kawasan ini antara lain menyusuri sungai air Hitamlaut dan sungai-sungai lainnya sambil menyaksikan berbagai jenis satwa seperti Orang Utan, Buaya, Rusa yang dapat dilihat dengan mudah.


15. Taman Nasional Purwo
Terletak di kabupaten Banyuwangi propinsi Jawa Timur.

Khas endemik / langka.
Banteng ( Bos Javanicus ), Rusa ( Cervus Timorensis ), Merak ( Pavo Muticus), pantai Plengkung yang terkenal untuk kegiatan berselancar.

Obyek Wisata.
Pantai Triangulasi memiliki keindahan alam yang sangat menarik terutama untuk menyaksikan terbenamnya matahari. Sedangkan pantai Plengkung memiliki gelombang ombak yang panjang dan tidak terputus sehingga sangat cocok untuk kegiatan surfing. Untuk pengusahan pariwisata telah ada dua perusahaan swasta yang mendapat ijin prinsip dari Menhut untuk mengusahakan pantai Plengkung, yaitu PT. Wahana Wisata Alam Bahari dan PT. Plengkung Indah Wisata.

Alamat kantor :
Jl. Jend. A. Yani No.108,
Banyuwangi,
Jawa Timur.

16. Taman Nasional Bukit Duabelas.
TN Bukit Duabelas berada di empat kabupaten (Batanghari, Sarolangun, Bungotebo dan Merangin) dan persis di tengah-tengah Propinsi Jambi. Kehadirannya juga melengkapi tiga TN lain yang masuk dalam wilayah Propinsi Jambi: TN Berbak, TN Bukit 30 (sebagian masuk Riau), serta TN Kerinci Seblat (sebagian berada di tiga propinsi lain: Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan). Areal Taman Nasional Bukit Duabelas yang mempunyai luas 60.500 Ha, berupa perbukitan dataran rendah yang berada pada ketinggian antara 30 sampai 430 m dpl. Secara geografis terletak antara 102 Lintang Selatan. Sedangkan secara administratif termasuk dalam tiga wilayah kabupaten, yaitu Sarolangun, Muaratebo dan Batanghari. Terdapat berbagai jenis flora dan fauna, baik yang langka dan dilindungi, maupun yang merupakan sumber makanan dan obat bagi Orang Rimba. Jenis fauna seperti: Ayam Hutan (Galus galus), Biawak (Varanus salvator), Kijang (Muntiacus muntjak), Nangoi (Sus barbatus), dan sebagainya. Mamalia langka antara lain : Harimau (Panthera tigris sumatrensis), Beruang (Helarctos malayanus), dan Kancil (Tragulus napu). Terdapat pula dari jenis burung langka seperti : Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Enggang Klihingan (Anorrhinus amictus), Seluloyok (Anthracoceros malayanus), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Buhung Gading ( Buceros vigil), Paok Delima (Pitta granatina), dan Tiung (Gracula religiosa).
Jenis flora yang dipakai untuk obat-obatan antara lain : Cendawan Balus (Pycnoporus sp.), Tubo Kayu, Tubo Akar, Tembalau, Paku Balus, Selusuh Kayu, Selusuh Akar, Akar Penyegar (Smilax zeylanica), Terap, Rotan Sio, Tunam, dan Sentubung

Sub Balai KSDA Departemen Kehutanan Jambi
Jl. Arif Rachman Hakim No. 10B, Lt. II Jambi - Indonesia
Telp.: 62-741-62451
WARSI
Jl. Teuku Umar 24 Bangko Jambi - Indonesia
Telp.: 62-746-21508 Fax.: 62-746-322178

17. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.
Bukit Tigapuluh, terdapat jenis fauna 192 species burung, 1/3 diketahui berasal dari Sumatra. 59 species mamalia.

WWF ID 0117 Bukit Tigapuluh
Jalan Raya Belilas, Pematang Reba , Rengat 29351. P.O Box 34 Rengat 29300, Riau - Indonesia
Telp.: 62-769-341123 Fax.: 341132 E-mail: bkp30np@pkb.mega.net.id
Sub Balai KSDA Departemen Kehutanan Riau
Jl. Sidomulyo Km, 8,5 Riau - Indonesia
Telp.: 62-761-63135
UPT Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Jl. Seminai No 8, Pematang Reba, Rengat, Riau - Indonesia
Telp/fax.: 62-769-341148
Sub Balai KSDA Departemen Kehutanan Jambi
Jl. Arif Rachman Hakim No. 10B, Lt. II Jambi - Indonesia
Telp.: 62-741-62451 

INDONESIA BAGIAN TENGAH & TIMUR :

1. Taman Nasional Kutai.
Terletak di kecamatan Bonyang, kabupaten Kutai propinsi Kalimantan Timur, dengan ketinggian 0-400 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Banteng ( Bos Javanicus ), Rusa Sambar Cervus Unicolor ), Kijang (Muntiacus Muntjak),
Kancil ( Tragulus Javanicus ), Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ), Beruang Madu ( Helarctos Muelleri ), Bekantan ( Nasalis Larvatus ), Lutung Bukit ( Presbytis Hosei ),
Loris ( Nyticebus Coucang ), Beruk Bangkoi ( Macaca Namestrina ), Burung Raja Udang ( Halcyon Concretta ).

Obyek Wisata.
Kita dapat melihat keunikan hutan dipterocarpus dataran rendah yang sudah jarang ditemukan, wisata bahari di Teluk Kaba, hutan anggrek di cagar alam Kersik Luwai, hulu Sungai Sangata untuk olahraga rafting.

Alamat kantor :
Jl. Mulawarman No,236, Tromol Pos 1,
Bontang 75383, Kalimantan Timur
Tel (0548) 21191 ( no tsb, mungkin sudah berubah ).


2. Taman Nasional Tanjung Puting.
Terletak di kabupaten Kotawaringin Barat dan kabupaten Kotawaringin Timur propinsi Kalimantan Tengah, dengan ketinggian antara 0-100 m dpl. Ekosistem dan formasi hutan terdiri dari : hutan rawa lebih kurang 60%, hutan mangrove lebih kurang 20%, padang alang-alang dan belukar lebih kurang 20%.

Khas / endemik / langka.
Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ), Bekantan ( Nasalis Larvatus ), Ungko ( Hylobates Agilis ), Babi Hutan ( Sus Barbatus ), Lutung Merah ( Presbytis Rubicundus ), Beruang Madu ( Helarctos Malayanus ), Kancil ( Tragulus Javanicus ), Kijang ( Muntiacus Muntjak ), Musang ( Viverra Tangalunga ), Kucing Hutan ( Felis Bengalensis ), Buaya Senyulung ( Tomistoma Schlegeli ).

Obyek Wisata.
1. Adanya pusat rehabilitasi satwa seluas lebih kurang 35.000 ha di Camp Leakey yang
menampung satwa hasil sitaan dan sebagainya sebelum dikembalikan ke alam habitat
asli.
2. Banyak sungai-sungai yang dapat dijadikan rekreasi bersampan sambil menikmati
keindahan alam.
3. Peninggalan sejarah kerajaan Kotawaringin berupa istana dan benda-benda lain yang
mempunyai nilai budaya yang tinggi.

Alamat kantor :
Kumai, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.


3. Taman Nasional Dumoga Bone.
Terletak di kabupaten Bolaang Mongondow dan kabupaten Gorontalo Sulawesi Utara, denga ketinggian antara 50-2.000 m dpl. Ekosistem dan formasi hutan terdiri dari : hutan hujan pegunungan, hutan hujan dataran rendah, hutan lembab, hutan lumut.

Mengingat taman nasional ini terletak antara kawasan-kawasan Zoogeografis Asia Timur dan Australia, Sulawesi telah membiakkan fauna dengan prosentase yang tinggi dari species endemik terutama mamalia (65%) dan burung (25%).

Khas endemik / langka.
Anoa ( bubalus Depressicornis ), Kuskus ( Phalanger Ursinus ), Kera Sulawesi ( Macaca Nigra Nigrecens ), ( Babyrousa babirusa ), Musang Sulawesi ( Macrogalidia Musschenbroeki ), Singapuar ( Tarsius Spectrum ), Burung Maleo ( Macrocephalon Maleo ), Kelelawar Badak ( Rhinolapas sp ), Ular Bakau ( Biogedendronphila ).

Obyek Wisata.
1. Obyek wisata di Tumokang Kosinggolan : keindahan alam sumber air panas, keunikan
alam da atraksi ( camping, lintas alam, fisihing dan photo hunting).
2. Di Torout, Lombingo, Tambun, Gunung Ambang : danau, air terjun, peninggalan
budaya, camping, memancing, lintas alam, foto hunting dan berenang.
3. Adanya irigasi Dumoga ( bendungan ksinggolan ) berupa danau yang cukup besar dan
dikelilingi hutan yang cukup lebat untuk kegiatan memancing, berperahu dan
menikmati keindahan alam yang indah.
4. Di Hungayono terdapat batuan stalaktit calsit semacam kristal yang mengkilat, sumber
air panas dan tempat bertelurnya burung Maleo.

Alamat kantor :
Doloduo, Kotak Pos 006 Kotamobagu
Sulawesi Utara 95772


4. Taman Nasional Laut Bunaken.
Terletak di propinsi Sulawesi Utara.

Khas / endemik / langka.
- Kima raksasa ( Tridacna spp )
- Kerang dan ikan hias.
- Keindahan taman laut.

Alamat kantor :
Sub Balai KSDA Sulawesi Utara,
Jl. WR Supratman, Manado
P.O.BOS 80 Manado


5. Taman Nasional Lore Lindu.
Terletak di kabupaten Donggala dan kabupaten Poso propinsi Sulawesi Tengah, denga ketinggian antara 1.000-1.500 m dpl (70%) dan di bawah 1.000 m dpl (10%).

Ekosistem dan formasi hutan yaitu : hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan.

Khas / endemik / langka.
Anoa ( Anoa Depressicornis dan Anoa Quarlesi ), Babirusa ( Babyrousa babirusa ), Singapuar ( Tarsius Spectrum ), Musang Coklat Sulawesi ( Macrogalidia Musschenbroeki ), Babi Celebes ( Sus Celebensis ), Kera Hitam Sulawesi ( Macaca Tonkeana ), Kuskus Beruang ( Phalanger Ursinus), Rusa (Cervus timorensis).

Obyek Wisata.
1. Wisata alam : mendaki Gn. Nokilalaki, Mengamati satwa liar di danau Lindu dan
memancing, bersampan.
2. Berkuda atau lintas alam di lembah-lembah Napu, Besoa dan Bada.
3. Berkemah di daerah Morena dan lembah Sopu.
4. Wisata budaya ( Megalith ) di lembah Besoa, Napu dan Bada berupa patung batu,
kalamba, guci kuno dan lain-lain.

Alamat kantor :
Jl. Prof. Moch Yamin Kotak Pos 2, Palu
Sulawesi Tengah


6. Taman Nasional Aopa Watumohai.
Terletak di kecamatan Lambuya, kabupaten Kendari propinsi Sulawesi Tenggara, dengan ketinggian antara 1-.1000 m dpl.
Ekosistem dan formasi hutan : hutan bajau, savana, hutan pegunungan rendah, hutan dataran rendah, rawa.

Khas /endemik / langka.
Ekosistem rawa, Anoa ( ( Anoa Depressicornis ), Babirusa ( Babyrousa babirusa ), Kera Hitam Sulawesi ( Macaca Ochereata ), Kuskus ( Phalanger ), Kera Buku ( Tarsius Spectrum ), Maleo ( Megachepphalon Maleo ), Kungkurio ( Oriplus Chinensis ), Soasoa ( Hydrosaurus Amboinensis ).

Obyek Wisata.
Dapat menikmati panorama alam yang indah, keunikan alam dan atraksi satwa di Pulau Harapan dan lembah Gn. Mokaleleo, bersampan dan memancing ikan air tawar di Rawa Aopa.

Alamat kantor :
Jl. Laute, Kendari
Sulawesi Tenggara


7. Taman Nasional Komodo.
Terletak di kecamatan Komodo ( ibukotanya Labuan Bajo ), kabupaten Manggarai
( ibukotanya Ruteng ) propinsi Nusa Tenggara Timur, denga ketinggian antara 500-600 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Biawak Komodo ( Veranus Komodoensis ), Elang Ikan Telapak Bergigi ( Pandion Heliaetus ), Rajawali Tutul ( Falcon Moluccensis ), Burung Gosong ( Megapodius Freycinet ), Penyu ( Chelonia sp ).

Obyek Wisata.
Dapat menyaksikan atraksi satwa komodo, wisata bahari di pantai Loh Liang, Loh Lasa dan Pulau Kalong, wisata budaya dan kehidupan sehari-hari penduduk asli pulau Komodo. melihat keanekaragaman terumbu karang, ikan hiu, lumba-lumba dan juga merupakan daerah migrasi yang penting bagi ikan paus antara lautan Indonesia dan Cina Selatan.

Alamat kantor :
Jl. Jend. Sudirman No.87
Labuan Bajo,
Nusa Tenggara Timur.


8. Taman Nasional Manusela.
Terletak di pulau Seram, kabupaten Maluku Tengah, propinsi Maluku, denga ketinggian antara 400-3.000 m dpl.

Ekosistem dan formasi hutan : hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan.

Khas / endemik / langka.
Rusa ( Cervus Timorensis ), Babi Hutan ( Sus Celebensis ), Viverra Tangalunga, Paradoxurus Hermahroditus, Phalanger Orientalis, Rhynchomeles Prattorum, Melomys Aerosus, Pogomelomys Fraterculus, Nesoromoys Ceramicus, Burung Kakatua ( Eros Semilarva ).

Obyek Wisata.
Dengan pemandangan alam yang indah di lembah Manusela dan lembah Piliana kaya akan kupu-kupu, pantai denga anek karang lautnya yang indah, air panas di Tehoru serta kegiatan safari rusa di padang Pasahari dan banyak ditemukan bunga anggrek hutan yang khas dan indah.

Alamat kantor :
Jl. Kapaha Tantui Pandan Kasturi
Kotak Pos 69, Ambon
Tel (0911) 41189


9. Taman Nasional Taka Bone Rate.
Terletak di kabupaten Selayar propinsi Sulawesi Selatan.

Khas endemik / langka.
Terdiri dari atol terbesar di Indonesia, berbagai jenis-jenis ikan hias dan karang yang sangat indah, juga terdapat jenis-jenis penyu.

Kegiatan wisata yang dapat dilakukan: Scuba Diving dan Snorkling


10. Taman Nasional Teluk Cendrawasih.
Terletak di kabupaten Manokwari dan kabupaten Pinai propinsi Irian Jaya.

Khas / endemik / langka.
Dugong ( Dugong Dugon ), Kima Raksasa ( Tridacna Gigas ), Coral Reef, Atol.

Obyek Wisata.
Rekreasi alam yang dapat dilakukan : Scuba Diving, Snorkling, Selancar Angin.

Alamat kantor :
Sub Balai KSDA Irian Jaya I,
Jl. Pemda Sorong, P.O.BOX 353
Irian Jaya
Tel. 21986


11. Taman Nasional Wasur.
Terletak di kabupaten Merauke propinsi Irian Jaya, dengan ketinggian antara 0-90 m dpl.

Khas / spesifik.
Kangguru, Burung Dara Mahkota, padang savana, Kasuari.

Obyek Wisata.
Kita dapat menyaksikan atraksi satwa rusa di padang savana, yang merupakan pemandangan alam yang menarik. Pengelolaan dilakukan oleh Sub Balai KSDA Irian Jaya II.


12. Taman Nasional Gunung Palung.
Terletak di kabupaten Ketapang propinsi Kalimantan Barat, dengan ketinggian antara 500-2.300 m dpl.

Khas / endemik / langka.
Terdapat di Taman Nasional Gunung Palung : Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ), Bekantan ( Nasalis Larvatus ), Rusa ( Cervus Timorensis ), Beruang Madu ( Helarctos Malayanus ).

Obyek Wisata.
Belum ada data, hanya banyak penelitian mengenai hutan tropis.


13. Taman Nasional Baka Bukit Raya.
Terletak di propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, dengan ketinggian antara 500-2.278 m dpl ( merupakan bukit tertinggi di Pulau Kalimantan untuk wilayah Indonesia ).

Khas / endemik / langka.
Orang Utan ( Pongo Pygmaeus ), Beruang Madu ( Helarctos Malayanus ), Gibbon
( Hylobates Agilis ).

Alamat kantor :
Sub Balai KSDA Tanjung Puting - Bukit Raya
Jl. Yos Sudarso No.5 Kotak Pos 32
Palangkaraya
Tel (0514 ) 21268

14. Taman Nasional Gunung Rinjani.
Terletak di wilayah kabupaten daerah tingkat II Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Tengah propinsi Nusa Tenggara Barat, denga ketinggian 550-3.726 m dpl.

Khas / spesifik.
Danau Segara Anakan yang terlatak pada ketinggian 2.008 m dpl dan dikelilingi beberapa gunung, merupakan pemandangan alam yang sangat indah dan menakjubkan. Juga terdapat jenis burung endemik Koakiau ( Philemon Buceroides ).

Obyek Wisata.
1. Menikmati keindahan alam di danau Segara Anakan seluas lebih kurang 156 ha yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang merupakan dinding kaldera berwarna-warni,
begitu juga airnya sehingga sangat menakjubkan.
2. Dari puncak Gn. Rinjani dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan ke arah danau dan keseluruh komplek pegunungan serta dalam keadaan cuaca baik dapat melihat pemandanga pulau Lombok dan pulau Sumbawa.
3. Adanya sumber air panas ( belerang ) di sekitar danau Segara Anakan yang merupakan tempat berobat bagi para pengunjung yang berpenyakit kulit.

TANPA PERSIAPAN, NAIK GUNUNG TIDAK BERMAKNA

TANPA PERSIAPAN, NAIK GUNUNG TIDAK BERMAKNA

BANYAK remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik. Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.

Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu "tergila-gila" naik gunung. "Because it is there," ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.

Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, "Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung".
Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah "modal nekad" dalam mendaki gunung.

Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin, kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik. Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa.

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.

Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.

Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.

Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.

Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot.

Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak, apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak, sebaiknya ditinggalkan.

Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu, pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah. Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.

Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.

Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.

Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di lua ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang.
Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah).

Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.

Prinsip pengepakan barang dalam ransel.
1. Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.
2. Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan (seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.
3. Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras. Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:
a. pakaian dan kantung tidur,
b. alat memasak,
c. tenda,
d. makanan.

Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari.
Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan.

penulis : Yunas Santhani Azis (sumber : kompas).

Pengetahuan Dasar Pendaki Gunung

PARA pendaki gunung, harus memiliki pengetahuan dasar, menyangkut navigasi darat dan peta-kompas. Ini semua digunakan selama perjalanan di alam bebas. Selain itu, pendaki juga harus membawa sejumlah peralatan standar. Apa saja itu?
Dalam olahraga naik gunung, ada pengetahuan dasar khususnya menyangkut navigasi darat atau peta-kompas yang harus dimiliki seorang pendaki.

Peralatan navigasi standar yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah peta, kompas, dan altimeter. Dalam arti populer, peta adalah representasi bentuk bentang bumi yang dicetak di kertas. Peta sendiri ada banyak ragamnya, sesuai keperluan. Namun peta yang bermanfaat bagi pendaki gunung adalah topografi, peta yang menggambarkan bentuk-bentuk dan kondisi permukaan bumi.

Dalam melihat peta, perhatikan skala atau perbandingan jarak dengan jarak sebenarnya. Skala peta dapat ditunjukkan dalam angka (misalnya 1:250.000) atau dalam bentuk garis. Untuk itu, jangan menggunakan fotokopi peta yang diperbesar atau diperkecil ukurannya. Selain membingungkan penghitungan jarak, pembesaran peta tidak menunjukkan akurasi relief bumi.

Ada baiknya, pendaki lebih dahulu mempelajari makna le-genda (simbol konvensional) dan kontur-garis penunjuk relief bumi-yang ada di peta. Penjelasan legenda selalu ada di bagian bawah peta. Dengan membaca kontur, dapat dibayangkan kondisi medan sebenarnya. Garis-garis kontur bersisian rapat menunjukkan medan yang curam, bila jarang berarti medannya landai. Lengkungan kontur yang menonjol keluar dari sebuah titik, menggambarkan punggung bukit atau gunung (ridge), sebaliknya adalah lembah. Di lembah-lembah seperti itu biasanya ada aliran sungai.

Ditambah kompas, peta merupakan alat untuk dapat menentukan posisi pendaki di gunung atau menunjukkan arah jalan. Teknik menggunakan variasi kompas dan peta dikenal dengan cross bearing, terbagi dalam resection (menentukan posisi kita di dalam peta) dan intersection (menentukan posisi satu tempat di peta).

Resection dilakukan dengan mula-mula mencari dua titik di medan sebenarnya yang dapat diidentifikasi dalam peta seperti puncak-puncak gunung. Kedua, hitunglah sudut (azimuth) kedua obyek tadi terhadap arah utara dengan kompas. Ketiga, pindahlah ke peta. Dengan menggunakan busur derajat, letakkan titik pusat busur derajat menghimpit titik identifikasi obyek dalam peta. Bila sudut azimuth yang diperoleh kurang dari 180 derajat, tambahkan azimuth itu dengan angka 180 derajat. Bila azimuth yang didapat dari kompas lebih dari 180 derajat, tambahkan dengan angka 180 derajat. Keempat, gunakan angka hasil perhitungan itu (dinamakan teknik back azimuth) untuk membuat garis lurus dari titik identifikasi. Perpotongan dua garis dari dua titik identifikasi menunjukkan letak kita di dalam peta.

Menentukan titik awal perjalanan di peta merupakan hal yang penting. Di tengah perjalanan, seorang pendaki kerap tidak dapat memainkan teknik cross bearing karena faktor cuaca atau medan yang tidak memungkinkan melihat titik-titik orientasi. Bila demikian, membandingkan keadaan medan sekitar dengan kontur peta dan merunutnya dari titik awal perjalanan, kadang menjadi satu-satunya cara menentukan posisi. Dalam keadaan seperti itu, altimeter atau piranti penunjuk ketinggian sangat dibutuhkan.

Saat ini fungsi kompas dan altimeter dapat diganti dengan GPS (Global Positioning System/piranti canggih menggunakan sinyal satelit). Dengan alat itu, pendaki dapat mengetahui kedudukannya dalam lintang dan bujur (koordinat) bumi. Pemakainya tinggal mencari besaran koordinat di peta. Bahkan GPS model mutakhir dapat menyimpan rekaman gambar peta melalui CD-Rom. Dengan begitu, pendaki bisa mengabaikan peta karena peta sekaligus tersaji di layar monitornya.

Dalam mendaki gunung atau menjelajah alam, pelaku juga harus memasak, makan, tidur, dan membersihkan diri. Semua dilakukan sendiri. Untuk itu, pendaki tidak dapat menghindari barang bawaan yang relatif banyak dan berat. Perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk pendakian? Perlengkapan seorang pendaki berupa sepatu, baju dan celana, jaket, ponco atau rain coat, dan ransel.

1. Sepatu mendaki yang baik selain melindungi kaki dari luka, juga harus nyaman saat dipakai meski membawa beban berat di medan licin, berbatu-batu, dan curam. Jenis sepatu boot paling cocok untuk kegiatan ini, karena melindungi pergelangan hingga mata kaki dari kemungkinan terkilir. Pilihlah sol sepatu dengan kembang besar, ceruk yang dalam dan memiliki tumit. Sol seperti ini memungkinkan pemakai dapat mencengkeram permukaan meski kondisinya ekstrim (curam, licin, atau berbatu-batu).

2. Pakaian ideal saat mendaki di gunung tropis adalah yang relatif tebal dan menyerap keringat, celana yang tidak kaku dan ringan guna melindungi kaki dari goresan duri. Baju dari katun atau wool cukup ideal. Sayang bila telah basah, katun tidak mampu menghangatkan badan. Baju dari bahan sintetis semisal polyesters dan acrylics sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering. Sementara bahan nilon sebaiknya tidak digunakan karena tidak menyerap keringat sehingga keringat akan tetap menempel di badan. Sebaliknya, nylon amat baik menahan hujan, sehingga banyak digunakan sebagai ponco.
Saat mendaki, hindari pemakaian pakaian berbahan jeans. Bahan ini sukar kering dan berat saat basah. Bila mendaki medan yang dirimbuni pepohonan atau semak tinggi, di mana terpaan angin tidak kencang, hindari mengenakan jaket saat berjalan. Selain menahan keringat menempel di badan, jaket juga membuat tubuh merasa gerah karena selama berjalan suhu tubuh meningkat akibat pembakaran zat makanan untuk menghasilkan energi.

Pada saat istirahat, di sela pendakian, pembakaran berkurang. Dinginnya temperatur di pegunungan dan hembusan angin maka pendaki akan menghadapi perbedaan drastis temperatur. Oleh karena itu, saat beristirahat, sebaiknya pendaki mengenakan jaket atau sweater tebal. Bila beristirahat saat hujan, sebaiknya mengganti baju jalan yang basah dengan baju kering.

3. Jaket sebaiknya digunakan menahan dingin di puncak atau di lokasi kemping saat akitivitas tidak segiat saat berjalan. Pilihlah jaket yang berbahan isian (down jacket). Jaket jenis ini cukup tebal dan penahan dingin yang baik. Kelemahannya, relatif berat dan memakan banyak tempat dalam ransel. Jaket lain sebaiknya dibawa adalah yang memiliki dua lapisan (double layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan angin.
Kini, teknologi tekstil sudah mampu memroduksi Gore-tex, bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki. Bahan itu memungkinkan kulit tetap "bernapas", tidak gerah, mengeluarkan uap keringat, mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proof). Sayang, bahan ini masih mahal, rata-rata berharga di atas Rp 1 juta.

4. Ransel. Perlengkapan vital pendakian lainnya adalah ransel. Kini banyak jenis ransel-terutama berangka dalam-dijual di pasaran. Fungsi rangka selain menyangga badan ransel tetap tegak, mencegah barang di dalamnya bergeser, dan menjaga jarak antara punggung pemakai dari ransel. Akibatnya, barang-barang keras yang dibawa tidak menyakitkan. Ransel yang baik dilengkapi tali pengatur sabuk penggendok atau sandang bahu, sandang pinggang, atau sabuk pinggang.

Sabuk dan tali pengatur itu akan membuat pemakainya nyaman memanggul ransel beserta isinya. Bila pendaki ingin membawa barang bawaan ke bahu dan punggung, kencangkan tali pengatur sandang bahu dan longgarkan sabuk pinggang. Sebaliknya, bila beban ingin ditopang punggung dan pinggang, kencangkan tali sabuk pinggang dan kendorkan tali sandang bahu. Ransel berdisain baik, bila rangka bagian bawah, saat dipakai, ada di sekitar pinggang sedang lengkungan rangka atas sesuai lengkungan tulang punggung pemakai.

Ransel yang memiliki beberapa kantung di penutup atau badan, memiliki banyak keuntungan. Barang-barang kecil seperti botol air minum, jaket, atau kamera yang sering dikeluar-masukkan selama pendakian, dapat ditaruh di situ. Dengan demikian, pendaki tidak perlu membuka-tutup dan mengacak-acak isi ruang utama ransel.
Oleh karena itu, pilihlah ransel berbahan nilon atau kanvas. Nilon selain kedap air juga ringan. Sebaliknya, kanvas relatif berat terutama pada waktu basah. Akan tetapi, kanvas lebih kuat terhadap goresan.
penulis : Yunas Santhani Azis (sumber : kompas).